Mekkah Al Mukaromah

(Pasar Seng di Kota Mekkah)

Assalamualaikum Wr.Wb.
Pada posting sebelumnya, saya menceritakan tentang perjalanan rombongan jamaah umroh menyinggahi kawasan Padang Arafah… nah sebenarnya daerah itu terletak di pinggiran kota Mekkah Al Mukaromah, jadi kebanyakan rombongan jamaah umroh memang  menginap di hotel kota Mekkah terutama di sekitar kompleks Masjidil Haram.

Sepintas dalam pandangan saya, kota Mekkah ini tergolong padat dibandingkan kota Jedah dan Madinah karena kontur daerah kota ini jelas sekali berbukit-bukit dan hampir setiap tahun kota Mekkah ini dibanjiri oleh seluruh umat Muslim dari seluruh dunia untuk melaksanakan ibadah haji maupun umroh… Selama di sana, saya sering menjumpai orang Turki, orang Iran, orang Afrika, pernah juga ketemu orang bule waktu di masjidil haram, ada juga orang India Muslim yang rata-rata bekerja menjadi pegawai kedai makanan… dan ga lupa orang Indonesia yang jadi TKI di sana! Hehehe… tentu saja yang paling banyak adalah orang Arab!!!… oh iya, kawasan kota Mekkah ini dikatakan tanah haram sebab orang non-muslim diharamkan masuk ke kota Mekkah… sehingga berbeda sekali suasananya dengan kota Jedah yang pernah saya ceritakan dahulu…

Di hotel penginapan jemaah umroh saya terletak pas di depan King Abdul Aziz Gate, jadi membuat saya bertambah semangat memperbanyak ibadah di Masjidil Haram… Hotel ini memiliki jumlah lantai lebih dari 40 buah sehingga terlihat menjulang ke langit… dengan ketinggian seperti ini saya dapat melihat secara saksama begitu indahnya Masjidil Haram dari jendela hotel… Foto pemandangan Masjidil Haram ini saya ambil di jendela hotel ketika setelah selesai ibadah sholat Shubuh… wah memang indah sekali… Allahhu Akbar!!!

Menurut informasi dari orang-orang ada keunikan di hotel tempat saya menginap… mungkin juga berlaku di hotel-hotel sekitar kompleks Masjidil Haram yaitu semua hotel dan penginapan adalah tanah wakaf sehingga dapat dikatakan milik umat muslim seluruh dunia… Sehingga banyak ustadz yang mengingatkan selama beribadah di sana hendaklah kita khusyuk beribadah, janganlah tergoda dengan hal-hal sepele seperti culture shock… Terkadang ada beberapa jamaah umroh Indonesia merasa tidak sreg dengan kebiasaan yang agak berbeda dari umat muslim negara lain… oleh karena itu luruskan niat beribadah merupakan hal yang utama karena faedahnya lebih besar… Insya Alloh.

Selain itu setiap kali adzan berkumandang dari Masjidil Haram, kita pasti mendengar adzan walaupun berada di dalam hotel… karena ada speaker yang dipasang di setiap kamar hotel untuk membunyikan suara adzan secara langsung dari muadzin di Masjidil Haram… Dan pernah ketika saya agak datang terlambat ke Masjidil Haram setelah mendengarkan adzan, hampir terlihat semua orang yang saya lihat juga berjalan cepat ke tempat yang sama termasuk karyawan-karyawan hotel dan pedagang-pedagang menutup semua dagangannya untuk melaksanakan ibadah sholat di Masjidil Haram… karena memang sholat di awal waktu harus diutamakan.

(Masjid Ji’ronah)

Bagi siapa yang melaksanakan ibadah umroh tentunya harus memenuhi rukun umroh yang pertama yaitu, Ihram. Berpakaian ihram ini dilakukan dari miqat sambil berniat umroh. Cara berpakaian ihram bagi laki-laki dengan memakai dua helai kain putih yang tidak berjahit, satu helai disarungkan dan satu helai lagi diselendangkan. Lalu ada beberapa batas tempat untuk memakai ihram antara lain Masjid Bir Ali atau Zulhulaifah ketika rombongan jamaah umroh saya berangkat dari kota Madinah.

Sedangkan bagi yang telah melaksanakan ibadah umroh dan ingin melaksanakan lagi tentunya tidak perlu mengambil miqat ke Masjid Bir Ali lalu balik lagi ke kota Mekkah… asal tahu saja jarak kota Mekkah dan Madinah itu kira-kira 100 km… jadi bagi jamaah tersebut dapat mengambil miqat di Masjid Ji’ronah yang berada di pinggiran kota Mekkah… karena tempat miqat ini memang diperuntukkan bagi orang-orang yang bermukim di sekitar kota Mekkah.

Setelah mengambil miqat di Masjid Ji’ronah, jamaah umroh saya sempat mengunjungi lokasi jejak Rasul… Lokasi itu adalah bukit yang bernama Jabal Tsur… dimana terdapat Goa Tsur tempat Rasulullah SAW menetap dengan Abu Bakar dalam melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Untuk mencapai Goa Tsur dibutuhkan kira-kira perjalanan 3 jam ke atas sana.

(Jabal Tsur)

Assalamualaikum Wr.Wb.

Jeddah - Pengantin Laut Merah

Bismillahhirrohmahnirrohim
Assalamualaikum Wr.Wb. Segala puji bagi Alloh SWT tiada henti-hentinya diucapkan oleh bibir dan hati kita agar selalu ingat akan nikmat yang patut kita syukuri. Apabila segala perbuatan kita dibarengi dengan niat yang ikhlas karena Alloh ta’ala tentunya harapan kita untuk mendapat keridhoan-Nya. Memang akhir-akhir ini saya mengalami sedikit kejenuhan dalam menulis posting dalam blog “siapaindra” ini. Saya akui bahwa dengan diterimanya saya untuk magang di sebuah perusahaan manufaktur menyebabkan aktivitas selama 1 hari (hari senin sampai jumat) saya bertambah saat ini. Penambahan aktivitas ini tentunya membuat saya untuk melakukan prioritas yang harus dikerjakan terlebih dahulu, sehingga akhirnya setelah mendapatkan waktu yang lowong saya dapat menulis blog lagi… GO-BLOG lagi deh… eh, nge-blog lagi… hehehe… :D  mudah-mudahan saya dapat terus mengisi blog ini dengan posting yang bermanfaat bagi pembaca semua.

Oke deh, pada posting kali ini, saya akan berbagi cerita tentang tempat-tempat di seputar pelaksanaan ibadah umroh yang saya jumpai selama berada di negeri Arab Saudi sana. Ibaratnya sih… seperti liputan perjalanan melalui foto-foto tempat-tempat pelaksanaan ibadah umroh dan pernak-perniknya. Memang ciri khas posting di blog ini sebagian besar merupakan foto-foto perjalanan yang saya abadikan melalui kamera digital 4 megapixel (yang biasa aja sih :P…) yang telah menjadi teman setia saya di setiap perjalanan. Oleh karena itu saya suka jeprat-jepret objek-objek yang saya anggap menarik untuk diabadikan. Hal ini semata-mata saya lakukan untuk berbagi pengalaman dengan pembaca blog ini, sehingga mungkin ada di antara pembaca tergerak niatnya untuk beribadah ke sana.

Pertama-tama saya jelaskan dahulu kalau perjalanan umroh itu adalah salah satu yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW. Jadi apapun perbuatan amal ibadah kita harus senantiasa mengambil teladan dari utusan Alloh yang terakhir, nabi Muhammad SAW. Umroh dapat diartikan secara bahasa yaitu “meramaikan”. Maksudnya adalah meramaikan Masjidil Haram dengan ibadah tertentu dan tempat tertentu (Ka’bah, Multazam, Maqom Ibrahim, Hijir Ismail dan Sofa Marwah yang berada di tanah suci Mekkah). Betapa selama ini kita umat Islam di seluruh dunia apalagi di Indonesia sangat merindukan mendapat undangan Alloh untuk menginjakkan kaki di tanah suci.

Oleh karena itu, hal terpenting yang saya dapatkan selama beribadah di sana adalah kita harus benar-benar MELURUSKAN NIAT. Saya menemukan bahwa godaan-godaan dalam melaksanakan sesuatu dapat bermunculan di hadapan kita karena niat belum lurus. Marilah kita memahami terlebih dahulu sebuah hadits HR. Bukhori & Muslim yaitu, “Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niatnya”.  Karena banyak amal yang kecil menjadi amal yang besar karena niat dan banyak amal yang besar menjadi kecil karena niatnya pula”. Dan saya beranggapan bahwa hal ini hendaknya menjadi landasan awal bagi kita untuk mengerjakan sesuatu. Akhirnya ada beberapa hal  yang dapat saya rangkum sebagai bahan renungan khususnya buat saya dan umumnya buat pembaca, bahwa perbuatan haruslah:

1.Dii’tikadkan oleh hati dan diucapkan oleh lisan.
2.Ditujukan untuk dan karena Alloh semata (ikhlas).
3.Penuh kepasrahan (tawakal).
4.Hindari adanya harapan selain balasan dari Alloh.
5.Menjauhi Ujub, Ria, Sum’ah dan Takabur.

Oke… selanjutnya perjalanan rombongan umroh dari Indonesia pada awalnya setiba di Arab Saudi dengan menggunakan pesawat terbang akan melalui bandara King Abdul Azis di kota Jeddah. Alangkah kagumnya hati saya ketika pertama kali melihat pemandangan negeri Arab ini dari balik jendela pesawat. Di balik tandusnya padang pasir di mana hewan ataupun tumbuhan jarang hidup di sana dapat disulap menjadi kota-kota yang berarsitek modern. Jalan-jalannya dibuat rapi dan terkesan megah. Oh iya ketika rombongan umroh akan keluar dari bandara maka akan dilakukan pemeriksaan paspor dan mahrom (untuk laki-laki, sedangkan untuk wanita disebut muhrim) di imigrasi Arab Saudi. Karena peraturan di Arab Saudi di sana tidak memperbolehkan wanita yang berumur di bawah 40 tahun bepergian tanpa didampingi oleh mahromnya. Oleh karena itu sebaiknya untuk wanita kalau akan melaksanakan ibadah umroh sebaiknya mengikutsertakan suami atau saudara laki-lakinya sebagai mahromnya. Hal ini ditujukan agar ada orang yang dapat melindunginya selama perjalanan di sana.

(Foto pemandangan Laut Merah dilihat dari kota Jeddah)

Kota Jeddah dalam pandangan saya adalah kota banyak terdapat pusat-pusat industri untuk negeri Arab Saudi. Ketika saya melewati kota ini dengan menumpangi bus, terlihat dalam pandangan saya banyak dijumpai gedung-gedung perkantoran yang sangat modern dan lalu lintas jalan rayanya tergolong padat. Kata orang-orang Arab, kota Jeddah sering dipanggil dengan sebutan “pengantinnya Laut Merah”… hehehe… artinya mungkin pasangan yang setia kali ya?! Memang benar kota Jeddah berada di tepi Laut Merah di mana lokasi ini sangat strategis untuk jalur perdagangan dari benua Eropa dan Afrika menuju semenanjung Arab. Sehingga lalu lintas perdagangan cukup ramai di sini. Akibatnya dapat kita tebak… tempat ini adalah surga belanja produk-produk impor bermerek. Hal ini ditunjang dengan berdirinya beberapa pusat perbelanjaan di kota Jeddah yang bebas pajak, salah satu contohnya kawasan Ballad dan Corniche. Tentunya bagi yang suka memberi oleh-oleh untuk keluarga dan tetangga di kampung, tempat ini merupakan pilihan yang tepat untuk menghabiskan Riyal (mata uang Arab Saudi) maka tidak salah timbul lelucon khas untuk beberapa jamaah haji Indonesia yang senang berbelanja, yaitu setelah melaksanakan ibadah melempar jumroh di Ula, Wusto dan Aqobah di Mina maka ada kegiatan tambahan lagi buat mereka yaitu, melempar uang Riyal di Ballad, Corniche dan pasar seng (kota Mekkah)… hahaha… :D   (Astaghfirullah al’azim…) walaupun kita akan membeli oleh-oleh tetapi jangan sampai tergoda nafsu secara berlebihan… setidaknya oleh-oleh tersebut dapat memicu motivasi yang positif dalam meningkatkan semangat beribadah di tanah suci… oleh karena itu sejak awal marilah niat ibadah selalu diluruskan agar diridhoi oleh Alloh SWT….

(Foto Masjid Terapung menjelang maghrib)

Di kota Jeddah ada sebuah masjid yang menjadi tempat favorit dikunjungi jamaah asal Indonesia sekaligus dari negeri tetangga Malaysia, yakni Mesjid Terapung. Meskipun dalam sejarah perkembangan Islam, masjid ini tidak memberikan arti sejarah apapun. Namun karena lokasinya yang berada di pinggir pantai menyebabkan masjid terlihat seperti terapung di atas permukaan air laut, sehingga menjadi objek yang menarik untuk disinggahi. Konon katanya masjid terapung ini merupakan tanah wakaf seorang janda kaya raya penduduk di sekitar situ. Setelah kematian almarhum suaminya, dia mewakafkan kekayaannya untuk membangun masjid ini. Keindahan masjid terlihat dapat dirasakan dengan  duduk di sekitar taman yang menjorok ke laut… Hmmm… sepertinya kalau kita mendengar cerita ini mirip dengan asal muasal dibangunnya Taj Mahal di India, salah satu keajaiban dunia… atauuu pun… masjid At-Tiin di Taman Mini Indonesia Indah… hehehe… pasti tahu dehhh…  kayaknya sih demi cinta, orang rela melakukan segalanya… dengan membuat sebuah monumen sebagai tempat untuk mengenang seseorang yang kita rindukan… Padahal kalau kita ketahui, baginda Rasulullah SAW yang sangat kita rindukan saja, melarang para sahabat beliau untuk membuat sebuah makam atau monumen untuk beliau apabila telah tiada di dunia ini kecuali tempat tersebut bertujuan untuk mengingatkan umat Islam akan kematiannya nanti dan tidak lebih daripada itu… Jadi sebenarnya tempat yang dinamakan Raudah di dalam masjid Nabawi yang dipercaya oleh beberapa orang sebagai makam Nabi Muhammad sebenarnya dahulu kala tidak lebih dari rumah kediaman Rasulullah SAW… Jadi kita umat Islam harus senantiasa diingatkan untuk menghindari perbuatan syirik kepada Alloh… Hmmm… selanjutnya tiba-tiba saya jadi tergelitik dengan sebuah pernyataan, apakah memang ada yang mau cinta sehidup semati kepada pasangan?? Hehehe… buat pecinta sejati semacam Romeo (konon karakter ini fiksi juga), dia rela ikut mati apabila pasangannya meninggal dunia…  waduh!!! Tapi kan enggak sampai gitu kan? Yang ada sih perkara urusan jodoh selama di dunia ini, kita serahkan pada Alloh SWT aja… betul ga?!

Wah…wah… koq ceritanya jadi bercabang, euy… saya lanjutin lagi deh tentang masjid terapung ini… sampai mana ya?? Oh iya.. saya pengen ngasih tahu aja, waktu itu rombongan jamaah saya tiba di masjid terapung ini dengan menumpangi bus pada sore hari setelah melewati padatnya lalu lintas kota Jeddah… Alhamdulillah… walaupun padat tetapi lancar koq… pemandangannya waktu senja itu sangat mengagumkan sekali, di mana matahari akan terbenam di antara langit dan Laut Merah yang dibatasi oleh sebuah horizon… sangat bersih langitnya… Allahhuakbar!!! keren banget deh… Nah setelah itu, bertepatan deh dengan masuknya waktu sholat maghrib.

(Ruangan Sholat Masjid Terapung)

Setelah sholat maghrib di masjid terapung, rombongan jemaah umroh kemudian melanjutkan persinggahannya ke pusat perbelanjaan Corniche… hehehe… padahal sebenarnya saya pengen menceritakan tentang kota Madinah dulu… tetapi kayaknya tulisan ini sudah kepanjangan deh… takut kelamaan bacanya :D ….nanti saya akan menulis pengalaman saya selama ibadah umroh di tanah suci menjadi beberapa posting, supaya alur ceritanya rada nyambung…. asyik kan?! 

Hehehe… oke bercerita tentang Corniche Shopping Center, tempat ini berisi toko-toko yang menjual barang-barang yang bebas dari pajak contohnya barang-barang elektronik seperti jam tangan, handphone, laptop, pakaian-pakaian bermerek macam Giordano, Mango, dll trus ada jual karpet buatan Turki atau Belgia, tas, sepatu, sampai permen-permen dan coklat-coklat Swiss ada di jual di sini. Walaupun bebas pajak, kita juga harus jago-jago nawar ama penjaga toko di sana karena sesungguhnya harganya masih bisa lebih murah lagi… hehehe… tenang aja kalau mau nawar ama orang Arab, mereka sudah sedikit mengerti angka-angka dalam bahasa Indonesia koq… kalau harga sudah cocok dan kita telah membayar, biasanya mereka akan mengatakan “Halal!” artinya kira-kira barang tersebut telah sah menjadi milik kita… hehehe… ada-ada aja, kirain barangnya bisa dimakan…. Waktu itu juga saya berkunjung ke toko yang bernama Ali Murah… waduh, dari namanya aja sudah ada unsur Indonesianya nih… Isi toko ini kebanyakan menjual parfum dan pakaian-pakaian muslim… Ternyata benar juga, penjaga tokonya ada beberapa orang Indonesia… hmmm… mungkin termasuk TKI juga ya, yang bekerja di Arab… Malah percakapan yang saya dengar di dalam toko ini lebih banyak bahasa Jawa atau ga bahasa Sunda… sambil nawar-nawar harga… memang benar, jemaah haji atau umroh kita kebanyakan juga berasal dari daerah.

Sebenarnya saya pengen berbelanja di situ, tetapi saya pengen lihat-lihat dulu ke dalam pusat pertokoan Corniche… akhirnya saya menemukan pasar swalayan di dalamnya… kebetulan saya pengen lihat-lihat produk-produk buatan Arab yang bermerek… eh, langsung yang pertama saya lihat di etalase pasar swalayan itu ada mie instan merek Indomie woiii…. hahaha… :D sebagai orang Indonesia, saya tentunya bangga melihat produk Indonesia dijual di sini berdampingan dengan produk-produk buatan Arab dan Eropa, saudara-saudara sebangsa setanah air…. setelah abis berkeliling Corniche, perut ini rasanya jadi lapar. Akhirnya saya putuskan untuk membeli makanan khas Arab yaitu, Kebab isi daging sapi… ada juga tersedia daging kambing… harganya 4 Riyal… memang sih sedikit lebih mahal, kalau di Madinah harganya cuma 3 Riyal… (kurs mata uang, 1 Riyal = 2.500 Rupiah) tetapi isinya aja udah padat dengan daging dan sayuran, nah cemilan yang ini bisa bikin perut orang Indonesia langsung kenyang… ga usah makan lagi… hehehe… kalau untuk minuman softdrink atau jus buah-buahan rata-rata harganya 1 Riyal.

(Cemilan khas Arab, Kebab)

Sementara demikian dulu posting saya kali ini, insya Alloh saya lanjutkan lagi dengan cerita-cerita dan foto-foto selama saya berada di kota Madinah, kota Mekkah, dan padang Arafah pada posting selanjutnya. Semoga cerita saya bermanfaat bagi para pembaca dan mohon maaf kalau ada kata-kata yang salah. Tolong ingatkan penulis secepatnya. Terima kasih. Assalamualaikum Wr.Wb.